musik kpop

Kpop Fandom: Senjata di Balik Kesuksesan Hallyu Wave

Tidak hanya itu, para penggemar Kpop juga rela mengeluarkan uang sampai ratusan juta hanya untuk memasang foto mereka di billboard (biasanya sebagai spot iklan di Times Square).
(Source: www.pexels.com)

Bermula dari kesuksesan konser salah satu grup boyband Korea Selatan bernama Super Junior yang digelar di Jakarta pada 2012 lalu, hallyu wave (demam Korea) kini semakin populer di mata masyarakat. Tidak lagi dipandang sebagai suatu aliran musik yang hanya digemari oleh para remaja, tetapi Kpop kini juga dijadikan target utama pasaran oleh banyak perusahaan baik itu kecil maupun besar untuk ditawarkan barang dan jasanya.

Mengapa dapat dikatakan demikian? Hal tersebut karena banyak grup Kpop, baik boyband maupun girlband, memiliki banyak sekali kelompok penggemar (fandom). Dengan situasi seperti itu, barang atau jasa apapun yang ditawarkan sudah dapat dipastikan akan laku keras. Bahkan saking besarnya Kpop fandom, mereka dapat mengalahkan banyaknya penggemar Justin Bieber. Hal tersebut terbukti dari bagaimana salah satu fandom milik boyband BTS (Bangtan Sonyeondan) bernama ARMY dapat menggeser posisi Justin Bieber yang sudah enam tahun berturut-turut menduduki posisi Top Social Artist. Akhirnya, pada tahun 2017 lalu posisi tersebut ditempati oleh BTS.

Nama dan Ciri Khas Kpop Fandom

Setiap boyband dan girlband pasti memiliki basis penggemar masing-masing. Setiap kelompok penggemar yang disebut fandom tersebut biasanya memiliki nama. Selain ARMY yang merupakan nama fandom dari grup BTS, ada juga beberapa nama fandom lain. Di antaranya adalah Wannable yang merupakan nama fandom grup Wanna One, Shawol nama dari fandom SHINee, BLINK nama fandom BLACKPINK, VIP nama fandom BIGBANG, SONE nama fandom Girls’ Generation atau yang lebih dikenal sebagai SNSD, dan ELF atau “Everlasting Friends” yang merupakan nama fandom dari grup Super Junior.

Nama-nama Kpop fandom tersebut dapat dikatakan sebagai identitas para penggemar. Tidak hanya itu, mereka juga memiliki tongkat lampu atau lightstick dengan desain dan warna yang menandakan grup yang mereka gemari. Salah satunya adalah lightstick yang memiliki desain berwarna kuning dan berbentuk seperti mahkota untuk fandom VIP. Sementara untuk beberapa grup Kpop generasi pertama seperti Sechs Kies dan H.O.T, keduanya tidak memiliki lightstick tetapi hanya memiliki warna sebagai khas para penggemar. Untuk penggemar Sechs Kies yang dipanggil Yellow Kies, ciri khas warna mereka adalah warna kuning. Sehingga setiap kali mereka menghadiri konser, mereka akan memakai pakaian dan membawa balon berwarna kuning. Sementara untuk H.O.T dengan fandom mereka yang bernama White Angels, ciri khas warna mereka adalah warna putih. Penggemar mereka juga akan memakai baju dan membawa balon berwarna putih.

Penentuan Nama Kpop Fandom

Ketika sebuah grup baru saja debut, mereka biasanya tidak memiliki nama fandom dan lightstick. Mereka baru akan memiliki kedua hal tersebut ketika sudah memiliki banyak penggemar dan sudah dikenal masyarakat.

Untuk penentuan nama Kpop fandom sendiri, biasanya agensi tempat mereka bernaung akan mengeluarkan beberapa opsi nama yang kemudian akan dilempar kepada para penggemar. Hal tersebut bertujuan agar penggemar turut serta memiliki peran dalam pembentukan fandom mereka. Biasanya, pemilihan tersebut dilakukan melalui voting di media sosial. Akan tetapi, terkadang para penggemar menamai fandom mereka sendiri. Sehingga grup yang mereka sukai beserta agensinya akan memutuskan apakah mereka akan berjalan mengikuti keputusan penggemar atau mereka tetap yang memiliki kontrol atas pemilihan nama fandom tersebut. Sementara untuk desain lightstick dan ciri khas warna fandom, agensi tetap menjadi yang nomor satu dalam pembuatan keputusan.

Kpop Fandom Menjadi Senjata Kesuksesan Hallyu Wave

Meski masih banyak masyarakat yang awam terhadap Kpop, tetapi di dalam komunitas Kpop sendiri, mereka memiliki andil yang sangat besar. Pasalnya, merekalah yang menjadi kunci utama dari kesuksesan suatu grup. Terkadang, suatu agensi sangat payah dalam mempromosikan grup mereka. Bahkan, terdapat beberapa grup boyband dan girlband yang sekarang tidak terlalu jelas nasibnya karena kurangnya promosi. Maka dari itu, fandom akan bekerja sangat keras agar grup yang mereka sayangi dikenal banyak orang.

Untuk promosi sendiri, penggemar Kpop tidaklah main-main. Mereka rela menghabiskan banyak uang agar grup yang digemari semakin dikenal banyak orang. Biasanya, mereka melakukan promosi ketika grup sedang aktif mempromosikan lagu baru, atau ada salah satu anggota grup yang sedang berulang tahun. Bahkan, ketika tidak ada aktivitas apapun dari grup, mereka tetap mempromosikan grup dengan mengadakan acara kumpul bersama di tempat umum.

Ketika grup sedang aktif, para penggemar akan terus meramaikan dan mempromosikan kegiatan mereka di media sosial. Biasanya, aktivitas ini juga diramaikan dengan penggunaan tagar. Penggunaan tagar tersebut bertujuan agar tagar menduduki peringkat nomor satu di Trending Worldwide di Twitter. Jadi, ketika ada orang awam yang penasaran dan melihat tagar tersebut, mereka langsung disambut dengan berbagai macam promosi grup Kpop.

Selanjutnya, ulang tahun para anggota grup boyband dan girlband tidak hanya dirayakan dengan pemberian ucapan kepada mereka, tetapi juga dengan mengadakan suatu proyek. Beberapa di antaranya yang sering mengundang perhatian adalah proyek amal atau proyek penanaman pohon yang dilakukan sebagai perayaan hari ulang tahun idola mereka. Tidak hanya itu, para penggemar Kpop juga rela mengeluarkan uang sampai ratusan juta hanya untuk memasang foto mereka di billboard (biasanya sebagai spot iklan di Times Square), spot iklan di stasiun kereta bawah tanah, bahkan memajang foto idola mereka sebagai iklan yang terpampang di transportasi umum.

Melihat hal tersebut, wajar saja dunia Kpop sekarang semakin maju. Tidak hanya dibantu dengan adanya media sosial yang mempercepat pertukaran informasi, tetapi juga karena kerja keras fandom. Usaha mereka dapat dikatakan sangatlah sukses. Sebab, melihat beberapa iklan produk di Indonesia, sudah ada satu atau dua perusahaan yang menggaet beberapa anggota grup boyband dan girlband untuk mempromosikan barang mereka. Maka dari itu, hallyu wave tidak hanya sukses dalam mempromosikan Korea, tetapi juga sukses dalam perputaran uang.