Blogging

Alat Musik Teraneh di Dunia

Alat musik dimainkan menggunakan kilat yang menyambar ke arah alat musik tersebut.
(Source: pexels.com)

Tahukah Anda bahwa tanggal 31 Juli merupakan hari perayaan instrumen musik? Hal tersebut sangatlah mengejutkan. Sebab, tidak ada yang mengetahui akan perayaan tersebut. Terkecuali mereka yang memang bergelut di bidang seni musik.

Untuk merayakan hari instrumen musik, berikut daftar alat musik paling aneh di dunia.

Zeusaphone

Meski memiliki nama yang sangat aneh dan terdengar seperti nama palsu, akan tetapi Zeusaphone adalah alat musik nyata yang juga dikenal dengan nama Thoramin. Alat musik tersebut dinamakan dengan nama yang menggunakan nama dua makhluk mitologi tersebut karena alat musik tersebut dimainkan menggunakan kilat yang menyambar ke arah alat musik tersebut.

Namun, ternyata Zeusaphone bukanlah sebuah awal musik awalnya. Tetapi melainkan adalah sebuah speaker plasma yang bekerja dengan cara memodulasi output dari percikan kumparan Tesla. Dengan begitu, alat tersebut menciptakan efek yang dapat didengar sebagai sebuah alunan nada. Instrumen ini dengan mudah memenangkan peringkat nomor satu dalam kategori nama terbaik dan pengalaman mendengarkan yang paling menakutkan.

Pyrophone

Alat musik yang bernama Pyrophone ini merupakan salah satu alat musik yang menyerupai organ namun memiliki bentuk yang aneh. Pyrophone juga dikenal sebagai organ api atau organ ledakan.

Secara harfiah, alat musik tersebut memang sebuah organ yang ditenagai oleh bensin dan propana. Suara yang dihasilkan oleh Pyrophone muncul karena adanya pembakaran dan ledakan yang terjadi dalam organ tersebut. Untuk memainkannya, setidaknya harus terdapat suatu bagian dalam organ tersebut yang harus berapi.

Menarik, bukan? Pyrophone dapat dikatakan sebagai instrumen rock sejati.

Singing Ringing Tree

Singing Ringing Tree lebih dikenal sebagai sebuah karya seni yang dibangun dari berbagai pipa dengan jenis panjang yang berbeda yang ditumpuk sedemikian rupa dibandingkan dikenal sebagai sebuah alat musik. Singing Ringing Tree mulai masuk ke dalam kategori alat musik paling aneh karena ketika sedang berangin, karya seni dan alat musik tersebut menghasilkan suara yang menakutkan.

Singing Ringing Tree pertama kali dibangun di timur Lancashire, Inggris, dengan tinggi sekitar 3 meter. Di bulan Maret 2017, alat musik aneh tersebut kembali dibangun di daerah dekat Austin, Texas di Amerika Serikat.

Organ Laut Zadar

Ternyata, terdapat beberapa organ laut yang tersebar di seluruh negara di dunia. Namun, salah satu organ laut bernama Zadar menjadi salah satu yang paling unik dan masuk dalam kategori alat musik paling aneh di dunia.

Organ laut tersebut dibangun sebagai tangga marmer di Zadar, Kroasia. Organ laut tersebut merupakan sebuah eksperimen musik yang dimainkan oleh lautan. Setiap kali terdapat ombak, sekecil apapun itu, menyentuh tangga marmer tersebut, Anda akan dapat mendengar suara harmonis yang bergema di atas anak tangga tersebut.

Double Contrabass Flute

Seruling memang merupakan alat musik tradisional yang biasa. Bahkan alat musik tersebut akan sering Anda lihat di pedesaan dan dimainkan oleh anak-anak kecil sebagai salah satu medium bagi mereka untuk bersenang-senang. Alunan musik yang dihasilkan oleh seruling dapat membuat Anda terngiang akan suara seorang penyanyi soprano yang lembut.

Namun, tahukah Anda bahwa ternyata terdapat beberapa anggota seruling yang memiliki bentuk fisik lebih besar? Bahkan, seluruh rentang piano dapat ditutupi oleh seruling bernama piccolo hingga double contrabass flute. Berdiri setinggi 8 kaki dengan lebar lingkaran yang lebih besar dibandingkan seruling lain, double contrabass flute terdengar lebih mirip seperti klakson. Alat musik paling aneh tersebut merupakan alat musik paling langka. Sebab, double contrabass flute hanya tersedia 4 buah yang tersebar di seluruh dunia.

Harmonika Gelas

Harmonika gelas merupakan alat musik yang diciptakan oleh Benjamin Franklin. Bagi yang tidak mengenalnya, Benjamin Franklin adalah tokoh asal Amerika Serikat yang dikenal akan percobaannya dengan penangkal petir. Dalam menciptakan alat musik tersebut, Franklin menggunakan prinsip yang sama dengan ketika Anda bermain dengan gelas anggur. Namun, Anda menaruh gelas tersebut pada sisinya.

Serangkaian mangkuk kaca akan berputar ketika pemain harmonika gelas tersebut menyentuh mangkuk dengan jari yang basah untuk menciptakan alunan musik yang diinginkan. Karena desainnya yang sangat unik, berbagai macam not musik dapat dimainkan secara bersamaan. Alhasil, Anda akan dapat mendengarkan beberapa suara yang indah.

Harmonika gelas cukup populer pada masanya. Bahkan, beberapa komposer ternama seperti Mozart dan Beethoven juga mengatur beberapa potongan not musiknya agar dapat dimainkan dengan alat musik tersebut. Namun sayangnya kepopuleran harmonika gelas semakin pudar seiring waktu berjalan.

Ternyata 4 Alat Musik Ini Usianya Sudah Ribuan Tahun

Ternyata 4 Alat Musik Ini Usianya Sudah Ribuan Tahun

Kini banyak alat musik di dunia yang digunakan untuk menghasilkan melodi yang bisa dinikmati banyak orang. Namun tahukah Anda bahwa musik pertama yang tercipta adalah siulan? Ini hadir sekitar 40.000 tahun silam.

Alat musik yang ada pada masa kini, awalnya berasal dari alat musik perkusi di zaman dulu. Alat musik perkusi pertama kali ada sekitar 165.000 tahun yang lalu. Waktu itu alat musik ini dibunyikan dengan beragam cara, seperti digesek, dipukul, maupun digoyang.

Bahan dasar alat musik terdahulu biasanya terbuat dari tulang, batu dan tumbuhan yang dipahat atau dilubangi sehingga menghasilkan nada tertentu yang enak didengar di masa itu. Nah, simak tulisan berikut untuk mengetahui alat musik yang pertama kali dibuat menggunakan bahan-bahan yang ada di alam.

Seruling dari Bambu

Seruling yang terbuat dari bambu atau rotan ini adalah salah satu alat musik tertua yang diperkirakan berusia 30.000 tahun. Alat musik ini dimainkan dengan cara ditiup. Hingga saat ini, seruling bambu juga masih ditemukan di beberapa daerah di Indonesia, loh!

Genderang dari Kulit Gajah

Genderang adalah gendang dengan ukuran yang besar. Alat musik ini ditemukan sekitar 30.000 tahun yang lalu. Usianya kurang lebih sama dengan seruling bambu. Pada waktu itu, manusia menggunakan kulit binatang yang ditarik untuk menciptakan suara. Genderang yang ditemukan ternyata menggunakan kulit gajah yang sudah diawetkan.

Terompet dari Gading Mamut

Apakah Anda familiar dengan binatang Mamut? Mamut adalah jenis gajah yang ukurannya sangat besar dan hidup di zaman purba yang kini telah punah. Alat musik yang berasal dari gading Mamut ini ditemukan oleh arkeolog yang berasal dari Jerman dan diperkirakan sudah berumur 43.400 tahun. Terompet dengan ukuran 18,7 sentimeter ini berasal dari gading mamut yang terdiri dari 3 lubang jari dan dapat mengeluarkan berbagai macam melodi.

Alat musik yang berumur sangat tua ini ditemukan sebanyak 31 buah di gua Geißenklösterle yang berada di dalam gunung dekat Ulm di selatan Jerman.

Untuk membuat satu alat musik terompet, sebuah lekukan gading mamut dibelah lalu dibuat lubang di bagian tersebut. Selain 3 lubang untuk jari, satu lubang lagi diikat dan ditempel dengan sebuah lapisan yang kedap udara.

Seruling dari Pahatan Tulang

Pada Juli 1955, seorang ahli yang mempelajari kehidupan dan kebudayaan di zaman purba dari Slovenia yakni Ivan Turk menemukan tulang yang telah dipahat, tepatnya di daerah barat laut Slovenia. Benda itu bernama ‘Divje Babe’ yang terdapat 4 lubang.

Bob Flink, musisi dari Kanada, meyakini bahwa lubang tersebut dimainkan untuk membunyikan 4 nada pada tangga nada. Kemudian beberapa peneliti memperkirakan usia seruling ini sudah mencapai 67.000 tahun dan merupakan alat musik tertua dan merupakan satu-satunya alat musik yang ada budaya Neanderthal.

Sekarang Anda sudah mengetahui kan berbagai macam alat musik tertua di dunia. Meski sudah beribu tahun lamanya, ternyata cara penggunaan alat musik tersebut sama dengan alat musik yang ada saat ini. Mungkin alat musik yang dipakai oleh orang-orang saat ini sudah terinspirasi sejak dulu ya. Walaupun alat dan bahannya masih sangat sederhana, namun kita harus tetap harus menghargai hasil karya dari orang terdahulu untuk bisa menciptakan sebuah melodi. Jika tidak ada alat-alat musik tersebut, mungkin saat ini kita tidak mengetahui bagaimana caranya untuk menciptakan sebuah melodi dari suatu alat musik. Good job untuk orang-orang yang berhasil menciptakan alat musik!





Intip Keseruan Konser Musik ‘Oceanic Folk Festival’

Oceanic Folk Festival yang diselenggarakan di Pulau Tidung dan Pulau Gusung Patrick

Festival musik kini mengalami inovasi yang beragam. Penyelenggaraan konser bisa dilakukan di berbagai tempat. Misalnya konser musik Prambanan Jazz dilaksanakan di Candi Prambanan. Selain itu ada Jazz Gunung Bromo yang tentu saja dilakukan di Gunung Bromo, Jawa Timur. Ada juga Lalala Festival di mana konsep yang diusung dari festival musik ini adalah konser di tengah hutan. Seru sekali ya!

Selain ketiga tempat tersebut, September lalu baru saja diselenggarakan festival musik di sebuah pulau. Menariknya, festival tersebut diisi oleh penampilan dari grup alat musik tradisional khas Jakarta, Tanjidor. Konser musik bertajuk Oceanic Folk Festival ini berlangsung di Pulau Tidung, Kepulauan Seribu, DKI Jakarta. Acara ini dilaksanakan selama 3 hari yang dimulai dari tanggal 20 September 2019.

Direktur Oceanic Folk Festival, Franki Raden menjelaskan bahwa festival ini mempertemukan kebudayaan bahari masyarakat internasional dari Asia Pasifik, Amerika Latin serta Afrika dengan kebudayaan masyarakat lokal. 

Dalam Festival ini disediakan juga Eco Music Camp dan Festival Bahari. Di tempat ini para peserta festival diperbolehkan untuk menginap di sebuah kawasan perkemahan di Pulau Tidung Kecil. Pulau ini dikenal sebagai kawasan agro wisata dengan fasilitas pelestarian beragam jenis biota laut seperti ikan, kura-kura dan museum paus.

Menurut Franki saat acara pembukaan festival, ia dan timnya ingin menghadirkan unsur musik untuk ekosistem. Musik menjadi sebuah medium yang paling kuat untuk generasi muda untuk membangkitkan kesadaran berbagi, termasuk aspek lingkungan. 

Pertunjukan musik yang dipusatkan di sebuah panggung yang berdiri di tengah laut ini dekat dengan Jembatan Cinta Pulau Tidung. Panggung ditempatkan menjorok ke laut sejauh 10 meter dari bibir pantai. Sejumlah seniman yang tampil turut menyampaikan pesan peduli terhadap lingkungan. Panitia Oceanic Folk Festival juga mengampanyekan pengurangan penggunaan sampah plastik dengan cara meminta seluruh peserta untuk membawa botol minum atau tumblr sendiri.

Franki menjelaskan, kesadaran warga akan lingkungan menjadi salah satu pertimbangan bagi wisata asing untuk mengunjungi suatu destinasi wisata. Karena turis mancanegara itu memiliki kesadaran ekologi yang tinggi. Mereka memberikan simpati terhadap konsep wisata yang ramah lingkungan namun tetap menghibur. 

Sebelum menggelar Oceanic Folk Festival di Pulau Tidung, Franki pernah menyelenggarakan acara serupa di Pulau Untung Jawa, Kepulauan Seribu. Pulau Tidung memiliki panorama alam yang indah. Pantainya bersih, air lautnya pun jernih. 

Kepala Suku Dinas Pariwisata dan Kebudayaan setempat mengatakan bahwa Pulau Tidung merupakan salah satu tempat yang cocok untuk penyelenggaraan festival musik sekaligus mengangkat tema peduli lingkungan. Dengan banyaknya agenda wisata yang digelar di tempat tersebut, ia berharap ke depannya akan lebih banyak pengunjung yang datang. 

Di hari penutupan festival musik Oceanic Folk Festival, acara dilangsungkan di Pulau Gusung Patrick. Lokasinya berjarak kurang lebih satu jam perjalanan dari Pulau Tidung. Saat tiba di pulau sekitar pukul 09.30 WIB, para seniman yang tampil di hari sebelumnya yang terdiri dari penampil akustik turut hadir untuk tampil di Pulau Gusung Patrick. Mulai dari grup Orkes Tanjidor Betawi, grup musik Supa Kalula dan lainnya, menampilkan performa terbaiknya dalam memainkan musik mereka.

Menurut Frankie, ide pemilihan lokasi di Pulau Gusung Patrick adalah usulan dari Kasudinparbud Kepulauan Seribu, Cucu Ahmad Kurnia. Untuk memeriahkan acara, dihadirkan pula lomba body painting hingga instalasi layang-layang. Kebetulan temanya adalah folk festival, banyak elemen akustik seperti Tanjido. Visual yang mendukung yaitu body painting. Sementara layangan untuk ornamen verikal.

Konser Musik Klasik Outdoor Pertama di Jakarta

Konser Musik Klasik ‘Jakarta Bersorak’ 2019 di Monas

September 2019 lalu pelataran Monumen Nasional atau Monas menjadi tempat pementasan terbuka untuk konser musik klasik. Biasanya musik klasik diadakan di dalam ruangan, namun kini ada hal baru yang berusaha dihadirkan oleh pemain musik klasik. Lokasi penyelenggaraan konser ini yaitu di Lapangan Tenggara Silang Monas, Jakarta Pusat. Acara tersebut bertajuk Konser Akbar Monas dengan tema ‘Jakarta Bersorak!!”

Acara yang dimulai pada petang hari ini diketuai oleh Timothy Siddik. Ia berharap bahwa konser ini merupakan konser musik klasik pertama yang dilaksanakan di luar ruangan. Timothy menambahkan, acara bebas biaya alias gratis ini dipersembahkan untuk warga yang ingin menikmati musik yang indah.

Konser yang turut dihadiri oleh Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan ini diadakan oleh Jakarta Simfonia Orchestra (JSO) dan Jakarta Oratorio Society (JOS). Adapun repertoar atau sejumlah lagu yang dibawakan di antaranya karya Wolfgang Amadeus Mozart, Strauss, Franz von Suppe, Gioachino Antonio Rossini dan Ludwig van Beethoven. Instrumental dari Beethoven yang dimainkan adalah Simfoni Nomor 9, bagian 4, Ode to Joy.

Sebenarnya tujuan dari konser musik klasik ini adalah untuk memperkenalkan musik yang baik untuk warga Jakarta. Suatu momentum untuk memulai sesuatu hal yang baik terutama musik bermutu, ujar ketua panitia Konser Akbar Monas.

Timothy turut menjelaskan, bila di berbagai negara pementasan musik sudah umum diadakan di luar ruangan. Ia mencontoh konsep pementasan musik klasik luar ruangan di Central Park, New York. Ada juga pementasan musik klasik di Hollywood, Los Angeles. Sementara di Berlin, musik klasik dipentaskan di Gendarmenmarkt dan Waldbuhne. Di negara Asia Tenggara, Singapura juga mementaskan musik klasik di Singapore Botanic Gardens. 

Pementasan musik klasik di pelataran Monas ini disambut antusiasme masyarakat yang tinggi. Tercatat yang menghadiri konser ini sejumlah 13.109 orang berdasarkan catatan dari tim UPT Monas. Menurut Gubernur Jakarta, Anies Baswedan, mungkin ini merupakan jumlah penonton konser paling banyak dalam rekor sejarah Indonesia. Ia juga mengaku bangga dengan banyaknya warga yang hadir dalam acara tersebut.

Selain menampilkan instrumental dari mancanegara, konser musik ini juga menampilkan lagu-lagu kebangsaan Indonesia. Di antaranya yaitu Bangun Pemudi-Pemuda, Tanah Airku Indonesia, Garuda Pancasila, dan Rayuan Pulau Kelapa.

Anies Baswedan menegaskan, Jakarta sebagai simpul kebudayaan Indonesia harus menunjukkan kelebihannya untuk dapat bersaing dengan kota-kota besar di dunia. Dengan keberagaman latar belakang masyarakat Indonesia, menjadikan negara ini memiliki keunggulan yang tidak dimiliki negara lain. Maka dari itu, dengan adanya konser musik klasik ini diharapkan dapat menyatukan seluruh kalangan masyarakat di Indonesia khususnya kota Jakarta.

Sebab musik merupakan bahasa yang paling bisa dimengerti oleh semua orang dan kalangan di dunia. Di Jakarta sendiri harus menjadi sebuah ekosistem di mana para seniman tumbuh dan berkembang, para seniman bisa menjadi tuan rumah di Indonesia. Namun ada hal yang tidak kalah penting, mereka juga harus bisa menjadi tamu yang mengesankan di mancanegara. 

Sejumlah pejabat penting turut hadir di acara tersebut, diantaranya Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti, serta para duta besar negara sahabat Indonesia, seperti duta besar Italy, Federasi Rusia, Deputy Ambassador United Kingdom, dan Deputy Ambassador European Union.

Semoga dengan adanya konser musik klasik pertama yang diselenggarakan di ruangan terbuka ini, masyarakat lebih mengetahui beragam jenis musik. Selain itu pihak penyelenggara dapat mencapai tujuannya yakni menghibur masyarakat khususnya Jakarta dengan alunan musik klasik yang indah.