Blog

Ternyata 4 Alat Musik Ini Usianya Sudah Ribuan Tahun

Ternyata 4 Alat Musik Ini Usianya Sudah Ribuan Tahun

Kini banyak alat musik di dunia yang digunakan untuk menghasilkan melodi yang bisa dinikmati banyak orang. Namun tahukah Anda bahwa musik pertama yang tercipta adalah siulan? Ini hadir sekitar 40.000 tahun silam.

Alat musik yang ada pada masa kini, awalnya berasal dari alat musik perkusi di zaman dulu. Alat musik perkusi pertama kali ada sekitar 165.000 tahun yang lalu. Waktu itu alat musik ini dibunyikan dengan beragam cara, seperti digesek, dipukul, maupun digoyang.

Bahan dasar alat musik terdahulu biasanya terbuat dari tulang, batu dan tumbuhan yang dipahat atau dilubangi sehingga menghasilkan nada tertentu yang enak didengar di masa itu. Nah, simak tulisan berikut untuk mengetahui alat musik yang pertama kali dibuat menggunakan bahan-bahan yang ada di alam.

Seruling dari Bambu

Seruling yang terbuat dari bambu atau rotan ini adalah salah satu alat musik tertua yang diperkirakan berusia 30.000 tahun. Alat musik ini dimainkan dengan cara ditiup. Hingga saat ini, seruling bambu juga masih ditemukan di beberapa daerah di Indonesia, loh!

Genderang dari Kulit Gajah

Genderang adalah gendang dengan ukuran yang besar. Alat musik ini ditemukan sekitar 30.000 tahun yang lalu. Usianya kurang lebih sama dengan seruling bambu. Pada waktu itu, manusia menggunakan kulit binatang yang ditarik untuk menciptakan suara. Genderang yang ditemukan ternyata menggunakan kulit gajah yang sudah diawetkan.

Terompet dari Gading Mamut

Apakah Anda familiar dengan binatang Mamut? Mamut adalah jenis gajah yang ukurannya sangat besar dan hidup di zaman purba yang kini telah punah. Alat musik yang berasal dari gading Mamut ini ditemukan oleh arkeolog yang berasal dari Jerman dan diperkirakan sudah berumur 43.400 tahun. Terompet dengan ukuran 18,7 sentimeter ini berasal dari gading mamut yang terdiri dari 3 lubang jari dan dapat mengeluarkan berbagai macam melodi.

Alat musik yang berumur sangat tua ini ditemukan sebanyak 31 buah di gua Geißenklösterle yang berada di dalam gunung dekat Ulm di selatan Jerman.

Untuk membuat satu alat musik terompet, sebuah lekukan gading mamut dibelah lalu dibuat lubang di bagian tersebut. Selain 3 lubang untuk jari, satu lubang lagi diikat dan ditempel dengan sebuah lapisan yang kedap udara.

Seruling dari Pahatan Tulang

Pada Juli 1955, seorang ahli yang mempelajari kehidupan dan kebudayaan di zaman purba dari Slovenia yakni Ivan Turk menemukan tulang yang telah dipahat, tepatnya di daerah barat laut Slovenia. Benda itu bernama ‘Divje Babe’ yang terdapat 4 lubang.

Bob Flink, musisi dari Kanada, meyakini bahwa lubang tersebut dimainkan untuk membunyikan 4 nada pada tangga nada. Kemudian beberapa peneliti memperkirakan usia seruling ini sudah mencapai 67.000 tahun dan merupakan alat musik tertua dan merupakan satu-satunya alat musik yang ada budaya Neanderthal.

Sekarang Anda sudah mengetahui kan berbagai macam alat musik tertua di dunia. Meski sudah beribu tahun lamanya, ternyata cara penggunaan alat musik tersebut sama dengan alat musik yang ada saat ini. Mungkin alat musik yang dipakai oleh orang-orang saat ini sudah terinspirasi sejak dulu ya. Walaupun alat dan bahannya masih sangat sederhana, namun kita harus tetap harus menghargai hasil karya dari orang terdahulu untuk bisa menciptakan sebuah melodi. Jika tidak ada alat-alat musik tersebut, mungkin saat ini kita tidak mengetahui bagaimana caranya untuk menciptakan sebuah melodi dari suatu alat musik. Good job untuk orang-orang yang berhasil menciptakan alat musik!





Kpop Fandom: Senjata di Balik Kesuksesan Hallyu Wave

Tidak hanya itu, para penggemar Kpop juga rela mengeluarkan uang sampai ratusan juta hanya untuk memasang foto mereka di billboard (biasanya sebagai spot iklan di Times Square).
(Source: www.pexels.com)

Bermula dari kesuksesan konser salah satu grup boyband Korea Selatan bernama Super Junior yang digelar di Jakarta pada 2012 lalu, hallyu wave (demam Korea) kini semakin populer di mata masyarakat. Tidak lagi dipandang sebagai suatu aliran musik yang hanya digemari oleh para remaja, tetapi Kpop kini juga dijadikan target utama pasaran oleh banyak perusahaan baik itu kecil maupun besar untuk ditawarkan barang dan jasanya.

Mengapa dapat dikatakan demikian? Hal tersebut karena banyak grup Kpop, baik boyband maupun girlband, memiliki banyak sekali kelompok penggemar (fandom). Dengan situasi seperti itu, barang atau jasa apapun yang ditawarkan sudah dapat dipastikan akan laku keras. Bahkan saking besarnya Kpop fandom, mereka dapat mengalahkan banyaknya penggemar Justin Bieber. Hal tersebut terbukti dari bagaimana salah satu fandom milik boyband BTS (Bangtan Sonyeondan) bernama ARMY dapat menggeser posisi Justin Bieber yang sudah enam tahun berturut-turut menduduki posisi Top Social Artist. Akhirnya, pada tahun 2017 lalu posisi tersebut ditempati oleh BTS.

Nama dan Ciri Khas Kpop Fandom

Setiap boyband dan girlband pasti memiliki basis penggemar masing-masing. Setiap kelompok penggemar yang disebut fandom tersebut biasanya memiliki nama. Selain ARMY yang merupakan nama fandom dari grup BTS, ada juga beberapa nama fandom lain. Di antaranya adalah Wannable yang merupakan nama fandom grup Wanna One, Shawol nama dari fandom SHINee, BLINK nama fandom BLACKPINK, VIP nama fandom BIGBANG, SONE nama fandom Girls’ Generation atau yang lebih dikenal sebagai SNSD, dan ELF atau “Everlasting Friends” yang merupakan nama fandom dari grup Super Junior.

Nama-nama Kpop fandom tersebut dapat dikatakan sebagai identitas para penggemar. Tidak hanya itu, mereka juga memiliki tongkat lampu atau lightstick dengan desain dan warna yang menandakan grup yang mereka gemari. Salah satunya adalah lightstick yang memiliki desain berwarna kuning dan berbentuk seperti mahkota untuk fandom VIP. Sementara untuk beberapa grup Kpop generasi pertama seperti Sechs Kies dan H.O.T, keduanya tidak memiliki lightstick tetapi hanya memiliki warna sebagai khas para penggemar. Untuk penggemar Sechs Kies yang dipanggil Yellow Kies, ciri khas warna mereka adalah warna kuning. Sehingga setiap kali mereka menghadiri konser, mereka akan memakai pakaian dan membawa balon berwarna kuning. Sementara untuk H.O.T dengan fandom mereka yang bernama White Angels, ciri khas warna mereka adalah warna putih. Penggemar mereka juga akan memakai baju dan membawa balon berwarna putih.

Penentuan Nama Kpop Fandom

Ketika sebuah grup baru saja debut, mereka biasanya tidak memiliki nama fandom dan lightstick. Mereka baru akan memiliki kedua hal tersebut ketika sudah memiliki banyak penggemar dan sudah dikenal masyarakat.

Untuk penentuan nama Kpop fandom sendiri, biasanya agensi tempat mereka bernaung akan mengeluarkan beberapa opsi nama yang kemudian akan dilempar kepada para penggemar. Hal tersebut bertujuan agar penggemar turut serta memiliki peran dalam pembentukan fandom mereka. Biasanya, pemilihan tersebut dilakukan melalui voting di media sosial. Akan tetapi, terkadang para penggemar menamai fandom mereka sendiri. Sehingga grup yang mereka sukai beserta agensinya akan memutuskan apakah mereka akan berjalan mengikuti keputusan penggemar atau mereka tetap yang memiliki kontrol atas pemilihan nama fandom tersebut. Sementara untuk desain lightstick dan ciri khas warna fandom, agensi tetap menjadi yang nomor satu dalam pembuatan keputusan.

Kpop Fandom Menjadi Senjata Kesuksesan Hallyu Wave

Meski masih banyak masyarakat yang awam terhadap Kpop, tetapi di dalam komunitas Kpop sendiri, mereka memiliki andil yang sangat besar. Pasalnya, merekalah yang menjadi kunci utama dari kesuksesan suatu grup. Terkadang, suatu agensi sangat payah dalam mempromosikan grup mereka. Bahkan, terdapat beberapa grup boyband dan girlband yang sekarang tidak terlalu jelas nasibnya karena kurangnya promosi. Maka dari itu, fandom akan bekerja sangat keras agar grup yang mereka sayangi dikenal banyak orang.

Untuk promosi sendiri, penggemar Kpop tidaklah main-main. Mereka rela menghabiskan banyak uang agar grup yang digemari semakin dikenal banyak orang. Biasanya, mereka melakukan promosi ketika grup sedang aktif mempromosikan lagu baru, atau ada salah satu anggota grup yang sedang berulang tahun. Bahkan, ketika tidak ada aktivitas apapun dari grup, mereka tetap mempromosikan grup dengan mengadakan acara kumpul bersama di tempat umum.

Ketika grup sedang aktif, para penggemar akan terus meramaikan dan mempromosikan kegiatan mereka di media sosial. Biasanya, aktivitas ini juga diramaikan dengan penggunaan tagar. Penggunaan tagar tersebut bertujuan agar tagar menduduki peringkat nomor satu di Trending Worldwide di Twitter. Jadi, ketika ada orang awam yang penasaran dan melihat tagar tersebut, mereka langsung disambut dengan berbagai macam promosi grup Kpop.

Selanjutnya, ulang tahun para anggota grup boyband dan girlband tidak hanya dirayakan dengan pemberian ucapan kepada mereka, tetapi juga dengan mengadakan suatu proyek. Beberapa di antaranya yang sering mengundang perhatian adalah proyek amal atau proyek penanaman pohon yang dilakukan sebagai perayaan hari ulang tahun idola mereka. Tidak hanya itu, para penggemar Kpop juga rela mengeluarkan uang sampai ratusan juta hanya untuk memasang foto mereka di billboard (biasanya sebagai spot iklan di Times Square), spot iklan di stasiun kereta bawah tanah, bahkan memajang foto idola mereka sebagai iklan yang terpampang di transportasi umum.

Melihat hal tersebut, wajar saja dunia Kpop sekarang semakin maju. Tidak hanya dibantu dengan adanya media sosial yang mempercepat pertukaran informasi, tetapi juga karena kerja keras fandom. Usaha mereka dapat dikatakan sangatlah sukses. Sebab, melihat beberapa iklan produk di Indonesia, sudah ada satu atau dua perusahaan yang menggaet beberapa anggota grup boyband dan girlband untuk mempromosikan barang mereka. Maka dari itu, hallyu wave tidak hanya sukses dalam mempromosikan Korea, tetapi juga sukses dalam perputaran uang.

Intip Keseruan Konser Musik ‘Oceanic Folk Festival’

Oceanic Folk Festival yang diselenggarakan di Pulau Tidung dan Pulau Gusung Patrick

Festival musik kini mengalami inovasi yang beragam. Penyelenggaraan konser bisa dilakukan di berbagai tempat. Misalnya konser musik Prambanan Jazz dilaksanakan di Candi Prambanan. Selain itu ada Jazz Gunung Bromo yang tentu saja dilakukan di Gunung Bromo, Jawa Timur. Ada juga Lalala Festival di mana konsep yang diusung dari festival musik ini adalah konser di tengah hutan. Seru sekali ya!

Selain ketiga tempat tersebut, September lalu baru saja diselenggarakan festival musik di sebuah pulau. Menariknya, festival tersebut diisi oleh penampilan dari grup alat musik tradisional khas Jakarta, Tanjidor. Konser musik bertajuk Oceanic Folk Festival ini berlangsung di Pulau Tidung, Kepulauan Seribu, DKI Jakarta. Acara ini dilaksanakan selama 3 hari yang dimulai dari tanggal 20 September 2019.

Direktur Oceanic Folk Festival, Franki Raden menjelaskan bahwa festival ini mempertemukan kebudayaan bahari masyarakat internasional dari Asia Pasifik, Amerika Latin serta Afrika dengan kebudayaan masyarakat lokal. 

Dalam Festival ini disediakan juga Eco Music Camp dan Festival Bahari. Di tempat ini para peserta festival diperbolehkan untuk menginap di sebuah kawasan perkemahan di Pulau Tidung Kecil. Pulau ini dikenal sebagai kawasan agro wisata dengan fasilitas pelestarian beragam jenis biota laut seperti ikan, kura-kura dan museum paus.

Menurut Franki saat acara pembukaan festival, ia dan timnya ingin menghadirkan unsur musik untuk ekosistem. Musik menjadi sebuah medium yang paling kuat untuk generasi muda untuk membangkitkan kesadaran berbagi, termasuk aspek lingkungan. 

Pertunjukan musik yang dipusatkan di sebuah panggung yang berdiri di tengah laut ini dekat dengan Jembatan Cinta Pulau Tidung. Panggung ditempatkan menjorok ke laut sejauh 10 meter dari bibir pantai. Sejumlah seniman yang tampil turut menyampaikan pesan peduli terhadap lingkungan. Panitia Oceanic Folk Festival juga mengampanyekan pengurangan penggunaan sampah plastik dengan cara meminta seluruh peserta untuk membawa botol minum atau tumblr sendiri.

Franki menjelaskan, kesadaran warga akan lingkungan menjadi salah satu pertimbangan bagi wisata asing untuk mengunjungi suatu destinasi wisata. Karena turis mancanegara itu memiliki kesadaran ekologi yang tinggi. Mereka memberikan simpati terhadap konsep wisata yang ramah lingkungan namun tetap menghibur. 

Sebelum menggelar Oceanic Folk Festival di Pulau Tidung, Franki pernah menyelenggarakan acara serupa di Pulau Untung Jawa, Kepulauan Seribu. Pulau Tidung memiliki panorama alam yang indah. Pantainya bersih, air lautnya pun jernih. 

Kepala Suku Dinas Pariwisata dan Kebudayaan setempat mengatakan bahwa Pulau Tidung merupakan salah satu tempat yang cocok untuk penyelenggaraan festival musik sekaligus mengangkat tema peduli lingkungan. Dengan banyaknya agenda wisata yang digelar di tempat tersebut, ia berharap ke depannya akan lebih banyak pengunjung yang datang. 

Di hari penutupan festival musik Oceanic Folk Festival, acara dilangsungkan di Pulau Gusung Patrick. Lokasinya berjarak kurang lebih satu jam perjalanan dari Pulau Tidung. Saat tiba di pulau sekitar pukul 09.30 WIB, para seniman yang tampil di hari sebelumnya yang terdiri dari penampil akustik turut hadir untuk tampil di Pulau Gusung Patrick. Mulai dari grup Orkes Tanjidor Betawi, grup musik Supa Kalula dan lainnya, menampilkan performa terbaiknya dalam memainkan musik mereka.

Menurut Frankie, ide pemilihan lokasi di Pulau Gusung Patrick adalah usulan dari Kasudinparbud Kepulauan Seribu, Cucu Ahmad Kurnia. Untuk memeriahkan acara, dihadirkan pula lomba body painting hingga instalasi layang-layang. Kebetulan temanya adalah folk festival, banyak elemen akustik seperti Tanjido. Visual yang mendukung yaitu body painting. Sementara layangan untuk ornamen verikal.

Konser Musik Klasik Outdoor Pertama di Jakarta

Konser Musik Klasik ‘Jakarta Bersorak’ 2019 di Monas

September 2019 lalu pelataran Monumen Nasional atau Monas menjadi tempat pementasan terbuka untuk konser musik klasik. Biasanya musik klasik diadakan di dalam ruangan, namun kini ada hal baru yang berusaha dihadirkan oleh pemain musik klasik. Lokasi penyelenggaraan konser ini yaitu di Lapangan Tenggara Silang Monas, Jakarta Pusat. Acara tersebut bertajuk Konser Akbar Monas dengan tema ‘Jakarta Bersorak!!”

Acara yang dimulai pada petang hari ini diketuai oleh Timothy Siddik. Ia berharap bahwa konser ini merupakan konser musik klasik pertama yang dilaksanakan di luar ruangan. Timothy menambahkan, acara bebas biaya alias gratis ini dipersembahkan untuk warga yang ingin menikmati musik yang indah.

Konser yang turut dihadiri oleh Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan ini diadakan oleh Jakarta Simfonia Orchestra (JSO) dan Jakarta Oratorio Society (JOS). Adapun repertoar atau sejumlah lagu yang dibawakan di antaranya karya Wolfgang Amadeus Mozart, Strauss, Franz von Suppe, Gioachino Antonio Rossini dan Ludwig van Beethoven. Instrumental dari Beethoven yang dimainkan adalah Simfoni Nomor 9, bagian 4, Ode to Joy.

Sebenarnya tujuan dari konser musik klasik ini adalah untuk memperkenalkan musik yang baik untuk warga Jakarta. Suatu momentum untuk memulai sesuatu hal yang baik terutama musik bermutu, ujar ketua panitia Konser Akbar Monas.

Timothy turut menjelaskan, bila di berbagai negara pementasan musik sudah umum diadakan di luar ruangan. Ia mencontoh konsep pementasan musik klasik luar ruangan di Central Park, New York. Ada juga pementasan musik klasik di Hollywood, Los Angeles. Sementara di Berlin, musik klasik dipentaskan di Gendarmenmarkt dan Waldbuhne. Di negara Asia Tenggara, Singapura juga mementaskan musik klasik di Singapore Botanic Gardens. 

Pementasan musik klasik di pelataran Monas ini disambut antusiasme masyarakat yang tinggi. Tercatat yang menghadiri konser ini sejumlah 13.109 orang berdasarkan catatan dari tim UPT Monas. Menurut Gubernur Jakarta, Anies Baswedan, mungkin ini merupakan jumlah penonton konser paling banyak dalam rekor sejarah Indonesia. Ia juga mengaku bangga dengan banyaknya warga yang hadir dalam acara tersebut.

Selain menampilkan instrumental dari mancanegara, konser musik ini juga menampilkan lagu-lagu kebangsaan Indonesia. Di antaranya yaitu Bangun Pemudi-Pemuda, Tanah Airku Indonesia, Garuda Pancasila, dan Rayuan Pulau Kelapa.

Anies Baswedan menegaskan, Jakarta sebagai simpul kebudayaan Indonesia harus menunjukkan kelebihannya untuk dapat bersaing dengan kota-kota besar di dunia. Dengan keberagaman latar belakang masyarakat Indonesia, menjadikan negara ini memiliki keunggulan yang tidak dimiliki negara lain. Maka dari itu, dengan adanya konser musik klasik ini diharapkan dapat menyatukan seluruh kalangan masyarakat di Indonesia khususnya kota Jakarta.

Sebab musik merupakan bahasa yang paling bisa dimengerti oleh semua orang dan kalangan di dunia. Di Jakarta sendiri harus menjadi sebuah ekosistem di mana para seniman tumbuh dan berkembang, para seniman bisa menjadi tuan rumah di Indonesia. Namun ada hal yang tidak kalah penting, mereka juga harus bisa menjadi tamu yang mengesankan di mancanegara. 

Sejumlah pejabat penting turut hadir di acara tersebut, diantaranya Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti, serta para duta besar negara sahabat Indonesia, seperti duta besar Italy, Federasi Rusia, Deputy Ambassador United Kingdom, dan Deputy Ambassador European Union.

Semoga dengan adanya konser musik klasik pertama yang diselenggarakan di ruangan terbuka ini, masyarakat lebih mengetahui beragam jenis musik. Selain itu pihak penyelenggara dapat mencapai tujuannya yakni menghibur masyarakat khususnya Jakarta dengan alunan musik klasik yang indah.